30 Maret 2013

Dongeng Pengantar Tidur.

Aku mungkin hanya seorang anak kecil yang sudah berjalan terlalu jauh. Menerobos pintu pagar besi yang menjulang tinggi yang di depannya ada tanda dilarang masuk. Di balik pintu pagar besi itulah aku menemukan sebuah kata baru yang aku kenal. Cinta.
Awalnya, aku kira dengan cinta aku bisa hidup bahagia selama-lamanya dengan seorang pangeran tampan di sebuah istana kerajaan. Karena, bukankah itu yang buku-buku dongeng ceritakan tentang cinta?
Awalnya, aku kira cinta tidak akan pernah menyakitkan. Karena sejauh ini yang aku tahu, cinta bisa menyakitkan jika hanya ada seorang penyihir jahat yang berusaha mengacaukan suatu hubungan kasih sayang.
Awalnya, aku bahkan mengira aku ini adalah seorang putri raja yang belum diketahui kebenarannya. Aku sendiri masih percaya, seorang pangeran tampan akan segera menyelamatkanku.
Sejauh ini aku mendengar banyak cerita tentang cinta. Dan itu terdengar sangat bahagia.
Tapi lama-lama kewarasan mengetuk-ngetuk akal sehatku. Melenyapkan segala bualan-bualan buku dongeng tentang cinta.
Ternyata perkiraan cinta yang selama ini aku tahu dari buku dongeng meleset jauh dengan kenyataan.
Karena kenyataannya, kita tidak bisa hidup bahagia selama-lamanya. Bukankah setiap manusia harus menemui ajalnya?
Karena kenyataanya, cinta itu dapat menyakitkan. Bahkan bisa-bisa membuatmu frustasi akan kehidupanmu. Aku sendiri sudah merasakan sakitnya. Karena tiba-tiba seseorang datang dan menyadarkanku bahwa cinta itu menyakitkan. Ya, kamu. Kamu yang memberi banyak torehan luka di hatiku.
Karena kenyataannya, aku ini hanya manusia biasa. Bukan seorang putri raja. Bukankah tidak ada kerajaan di negara berlambang garuda ini?
Aku sudah menerobos terlalu jauh. Sama halnya dengan aku yang percaya cinta di buku-buku dongeng yang terlalu berlebihan.
Entahlah, mana kebenarannya. Kau menyadarkanku akan cinta yang sebenarnya. Cinta bahagia tapi menyakitkan. Tapi memang hidup itu seimbang bukan? Ada bahagia maka ada kesakitan.
Tapi sekali lagi aku pertegas, aku hanya anak kecil yang sudah dijejali kata cinta.
Lagipula siapa yang tahu bahwa perasaan yang saling kita miliki ini dapat dinamakan cinta?
Entahlah, tapi terimakasih untuk kamu dan kata cinta yang sekarang dapat membuat aku tersenyum.
Dan, omong-omong, terimakasih untuk dongeng pengantar tidur yang dapat aku buat karena kamu, cinta, dan kenyataan.